5 Dampak Serius Perang Iran vs Israel Bagi Indonesia, Inflasi hingga Harga BBM Merangkak Naik

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA – Pengamat Pasar Uang, Lukman Leong sebut akan ada lima dampak serius, bagi ekonomi Indonesia, jika perang antara Iran dan Israel terus berkecamuk.

Diketahui, Iran melakukan serangan balasan terhadap Israel dengan meluncurkan sejumlah roket hingga drone, pada Sabtu (13/4/2024) malam.

Lukman Leong menilai, perang yang terus berkelanjutan antar Iran dan Israel, akan berdampak pada melonjaknya harga minyak mentah sebesar 4,4 persen.

Hal tersebut ujar Leong, bisa terjadi lantaran Iran merupakan negara penghasil minyak ke-7 terbesar di dunia.

“Harga minyak yang melonjak berimbas ke pelebaran subsidi energi hingga pelemahan kurs rupiah lebih dalam,” kata dia kepada wartakotalive.com, Selasa (16/4/2024).

Baca juga: Kritik Surat Amicus Curiae Megawati ke MK, Kuasa Hukum Prabowo-Gibran: Beliau Tidak Netral

Dampak kedua lanjut Leong, yakni akan berkurangnya aliran investasi asing dari negara berkembang, karena peningkatan risiko geopolitik.

Hal itu akan berimbas pada nilai tukar rupiah terhadap dolar yang semakin melemah, bahkan bisa menyentuh angka Rp 17 ribu

“Investor juga mencari aset yang aman baik emas dan dollar AS, sehingga rupiah bisa saja melemah hingga Rp 17 ribu, per dolar,” papar Leong.

Tak hanya itu, Leong mengatakan jika perang Iran dan Israel yang terus berlanjut, maka akan mengganggu kinerja ekspor Indonesia ke negara Timur Tengah, Afrika, dan Eropa.

“Itu menyebabkan pertumbuhan ekonomi akan melambat, di kisaran 4,6-4,8 persen tahun ini,” ucap dia.

Baca juga: Wasapada, Dampak Perang Iran-Israel untuk Indonesia: Harga BBM Bisa Melambung TInggi

Leong mengatakan, dampak selanjutnya yakni akan mendorong terjadinya inflasi, karena disebabkan oleh naiknya harga energi, yang berujung pada tekanan daya beli masyarakat yang terus meningkat.

Baca Juga  Kampanye Akbar di JIS, Anies: Bukan Konser, Tapi Bentuk Aktivitas Berdemokrasi

“Rantai pasok global yang terganggu perang membuat produsen harus cari bahan baku dari tempat lain, tentu biaya produksi yang naik akan diteruskan ke konsumen,” ucap dia.

Selanjutnya, dampak terakhir, yakni peningkatan suku bunga yang tinggi, dan kondisi itu akan bertahan lama.

Bagi masyarakat yang akan membeli rumah atau kendaraan lewat skema kredit lanjut Leong, maka harus siap dengan bunga yang lebih mahal. 

“Suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama bahkan ada risiko suku bunga naik,” ujar dia. (m41)

Baca berita Wartakotalive.com lainnya di Google News.



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *